KONFERENSI GENEVA 20-23 JUNI 1995 yang berjudul Eco-Labelling and other Environmental Quality Requirements for Trade of Developing Countries in Textiles and Clothing. Diselenggarakan oleh International Trade Centre UNCTAD/WTO. Konferensi ini dihadiri oleh 25 negara diantaranya : Brazil, Bangladesh, Cina, Colombia, Arab, India, Indonesia, Korea, Vietnam dan Zimbabwe.
Salah satu
rekomendasinya adalah tekstil dan produk tekstil termasuk didalamnya Tenun ikat
dan double ikat yang menggunakan Zat Pewarna Sintetis/Kimia gugus AZO
dilarang untuk diperdagangkan karena akan: Penyebaran penyakit kanker melalui epidermis (kontak dengan kulit)
atau oral (terbawa air liur) hal ini diakibatkan juga oleh pembuangan limbah
dengan cara (1) Limbah
cair zat warna dibuang begitu saja dihalaman rumahnya dan (2) dibuang disungai-sungai Akibat yang terjadi
: Setelah sekian
puluh tahun akan mencemari air sumur milik warga ,Sungai-sungai akan mengaliri
persawahan dan tumbuhan lainnya.
Dapat dibayangkan ketika dikonsumsi oleh anak
cucu kita,kira-kira apa yang akan terjadi sekarang sudah kita rasakan, selama Belanda menjajah 350 tahun.
Bersamaan dengan penggunaan Zat Pewarna Sintetis / Kimia. Penyakit kanker akan
ketahuan setelah minimal 10 tahun, baik kanker kulit maupun lainnya didalam
tubuh manusia.
Sementara
Di lombok NTB kerajinan tenun alam telah ada sejak abad ke
14 M. Dan masyarakat telah menggunakan beberapa Zat Pewarna Alam seperti daun
Tarum, kayu Spang, Buah Pinang, daun pacar Kuku, kayu nangka, kulit kayu
makasar, akar mengkudu dll.
Khususnya di lombok Tengah Pekerjaan menenun mayoritas dilakukan oleh perempuan miskin di
pedesaan . kegiatan ini banyak dilakukan oleh perempuan pada saat tidak ada
pekerjaan di sawah. Namun seiring dengan perkembangan dimana hasil tenun
masyarakat lombok tengah banyak diminati oleh konsumen baik dari dalam maupun
luar daerah, maka pekerjaan menenun tidak saja sekedar mengisi waktu kosong
namun sudah dijadikan sebagai pekerjaan utama.
Beberapa kelebihan dari pewarnaan alam antara lain :
1. Zat Pewarna Alam dapat dikemas dalam bentuk powder, menjadi sebuah
industri zat warna
2. Tumbuh-tumbuhan banyak untuk bahan baku industri zat pewarna alam banyak tumbuh di lingkungan
kita.
3. Menyerap tenaga kerja dibidang
Industri
4. Menyerap tenaga kerja dibidang
pertanian
5. Menumbuhkembangkan industri tenun
yang berwawasan lingkungan
6. Produk tenun dapat diterima pasar global, dengan
menggunakan zat pewarna alam
7. Zat pewarna alami akrab lingkungan.
8. Intensitas warna menyehatkan kornea
mata.
9. Zat pewarna alami mengandung “anti
Oksidan”
Salah satu desa di lombok tengah yaitu Desa Ungga adalah
salah satu desa di kecamatan Praya Barat Daya, desa ini merupakan pemekaran
dari desa Darek yang sekarang menjadi ibu kota kecamatan Praya Barat Daya.Desa
Ungga berada di tengah-tengah desa yang lain dengan perbatasan sebelah barat
Desa Ranggagata, sebelah timur Desa Sukarara, sebelah selatan Desa Darek,
sebelah utara desa Bun Mudrak
Desa Ungga
memiliki 6 dusun yaitu Ampan Lolat, Dasan Ketapang, Batu Bolong , Tunak Malang,
Iting Bengkel , Banteng Kurus dengan jumlah penduduk 7303 jiwa yang terdiri
dari laki-laki 3515 dan perempuan 3788 dengan {data tahun 2014}.Desa Ungga merupakan salah satu desa yang sarat dengan
kretifitas dan merupakan salah satu desa sentra kerajinan tenun , dari jumlah
penduduk perempuan, hampir 60% adalah pengerajin tenun.
Selama ini masyarakat luas hanya mengenal Sukarara sebagai sentra tenun, tidak banyak yang mengetahui bahwa pengusaha di sukarara juga banyak yang menerima pasokan barang tenun dari pengerajin di desa Ungga, hal ini terjadi karena desa Sukarara bekerja sama dengan piak ketiga dalam malakukan promosi-promosi di luar, baik media cetak maupun media elektronik.
Dari 60% masyarakat ungga yang menekuni bidang kerajinan tenun, selama ini mereka sudah banyak yang berkelompok, tetapi baik itu yang di bentuk oleh PNPM maupun program yang lainnya, tetapi itu tidak bisa menjawab persoalan yang di temui oleh para pengerajin yang salah satunya tentang pengadaan bahan baku.
Selama ini pengerajin masih memakai bahan baku dari pewarnaan
sintetis yang biasa di beli di toko-toko dan sebagian besar itu masih mengandalkan
pasokan dari Bali dan pengusaha benang yang ada di Cakra, oleh sebab itu, pada
musim-musim dan parayaan-perayaan tertentu, sering kali pengerajin kesulitan
bahan baku dan cenderung harganya semakin tinggi tetapi harga di pengumpul
masih tetap.Berangkat dari permasalahan di atas, maka salah satu kelompok
pengerajin yaitu kelompok “ Keker” yang terletak di Dusun Ampan Lolat mencoba
untuk malakukan terobosan baru dengan alternatif melakukan pencelupan benang
dengan pewarnaan alami.sebenarnya pewarnaan alami ini bukan hal yang baru di lakukan, tetapi ini sudah lama tidak di lakukan dan sudah tergerus oleh kemudahan yang di tawarkan oleh benang produksi pabrikan dan pewarnaan sintetis,di samping mudah di dapat, benang pewarna sintetis juga memiliki kelebihan dengan fariasi warna yang sangat cerah, tetapi besar kemungkinan luntur,beda dengan pewarnaan alami, pewarnaan alami memiliki warna yang cenderung agak buram dan lembut tetapi tidak luntur.Dalam melakukan Pencelupan pewarnaan alami ini sebenarnya tidak sesulit yang di bayangkan tetapi ini juga membutuhkan ketelatenan karena dalam melakukan pencelupan di butuhkan takaran yang pas untuk bisa membuat duplikat dari warna yang sudah di buat sebelumnya, dan terkadang disitulah letak kesulitan terbesarnya.untuk pemasaran, tenun warna alam, ditingkat lokal, tenun ini masih belum banyak peminat karena harganya juda sedikit lebih mahal dari pada sintetis, meski begitu tidak menyurutkan niat dari pengerajin ini untuk terus memproduksi dan mempromosikan tenun warna alam ini . semoga dengan melakukan pewarnaan alami ini bisa kembali membangkitkan budaya leluhur yang sudah mulai tergerus oleh jaman.
No comments:
Post a Comment